Langsung ke konten utama

Satu Sajak Wislawa Szymborska



REMAJA


Aku— seorang remaja?
Jika ia tiba-tiba berdiri, kini, di sini, di hadapanku
haruskah kuperlakukan dirinya dengan ramah dan penuh sayang,
meski bagiku ia asing dan berjarak?

Meneteskan air mata, mengecup keningnya
demi alasan sederhana
bahwa kami memiliki tanggal lahir yang sama?

Sejak matanya terlihat lebih besar,
bulu matanya lebih panjang, ia pun lebih tinggi
dan seluruh tubuhnya terbungkus rapat
dalam kelembutan, kulit tak bercacat.

Kerabat dan sahabat masih menghubungkan kami, itu benar,
tapi dalam dunianya segala hal masih hidup
sedangkan dalam duniaku tak satu pun bertahan
dari lingkaran yang sama itu.

Kami sungguh sangat berbeda,
bicara dan berpikir mengenai hal-hal yang sama sekali berbeda.
Ia serba tahu—
dan dengan kegigihan ia layak mengemukakan alasan-alasan yang lebih baik.

Aku tahu lebih banyak—
tapi pernyataanku tak ada yang meyakinkan.

Ia menunjukkanku beberapa puisi,
ditulis dalam kalimat jernih dan hati-hati
yang tak kupakai selama bertahun-tahun.

Kubaca puisi, kubaca semuanya.
Nah, andai saja salah satunya
ditulis lebih pendek
dan tetap berada di berbagai tempat.
Sisanya, bukan pertanda yang baik.

Percakapan terhambat.
Pada jam tangannya yang menyedihkan
waktu begitu murah dan mudah goyah.
Sedangkan pada jam tanganku ia jauh lebih berharga dan tepat.

Dalam perpisahan, tak ada senyum yang bertahan
dan tanpa emosi
kecuali saat ia berlalu
meninggalkan syalnya terburu-buru.

Syal dari bahan wool asli,
dengan corak bergaris
disulam untuknya
oleh ibu kami.



Aku masih memiliki syal itu.


 

(Sumber terjemahan Here)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu Puisi Zulkifli Songyanan (2013)

SURAT DARI BANDUNG —buat Wieteke van Dort Hallo, Nyonya. Seorang perempuan tua tersesat dalam tubuhku. Ia mengingatkanku padamu lewat Hallo Bandoeng yang dengan lembut diucapkannya saban waktu. Dan konon, Nyonya perempuan tua itu masih mencari anak-cucunya yang ditakdirkan hidup abadi dalam sepotong refrain pada lagu Belandamu. (Sungguh aku tak mengenal siapa mereka meski perempuan malang itu terus saja bicara: anakku tentara, istrinya perempuan coklat dari Jawa). Nyonya tiap kali perempuan tua itu bicara tentang rindu aku mengerti, betapa sia-sia ia hidup. Tanpa rendezvous , baginya, waktu adalah sebatang sungai yang tandus. Pernah suatu ketika perempuan tua itu berteriak: anakku, anakku! keajaiban, kini terdapat pada kepingan gulden dan bentangan kawat! (Dan benar, Nyonya. betapa ajaib akhirnya, gulden dan kawat menyampaikan maut ke k...

KISAH DI BALIK LAGU ABAH IWAN

Judul Buku:      Mentari Sang Kelana: Cerita dan Makna Lagu-lagu Iwan Abdulrachman Penulis:             Arie Malangyudo Penerbit:           Kepustakaan Populer Gramedia Tahun Terbit:    September, 2017 (Cetakan Pertama)   Halaman:          xii + 273 hlm; 14 cm x 21 cm ISBN:               978-602-424-676-1 Iwan Abdulrachman alias Abah Iwan adalah nama penting dalam khazanah musik balada (folks) Indonesia. Karakternya kuat. Karya-karyanya memukau dan mantap. Kiprahnya sebagai musikus membentang sejak usia 17 tahun hingga sekarang. Lewat buku Mentari Sang Kelana: Cerita dan Makna Lagu-lagu Iwan Abdulrachman; Arie Malangyudo berupaya menggali pesan sekaligus menyingkap asbabu-nuzul lagu-lagu yang ditulis sang maestro. Sejak 196...

BALADA PAPANGGUNGAN (Versi Revisi)

(Ilustrasi diunduh dari sini ) Sebentang jalan dari arah Cisurupan bersimpang di paras Papanggungan. Berpetak kebun teh dan sayuran deretan elf pakidulan tiba-tiba mirip sajak segar dengan tema alam dan sosial berbarisan. Seorang kawan bernapas lewat sulur daun tomat dan umbi-umbian. Pikirannya akar jalar merambati kekosongan. Hatinya tanah resah menadah madah hujan. Bau pupuk kandang menyesakkan dengung lalat-lalat hitam kehijauan berkelindan dalam sebuah percakapan ihwal ideologi dan cocok-tanaman. (Saat itu, kabut nyaris memenuhi cakrawala dan udara, dan udara tak sedingin biasanya). “Bagiku, kawan memilih benih yang baik itu mengolah tanah dengan baik itu adalah upaya sederhana merawat sejarah dan iman jamaah dan aturan dari tipu daya penguasa.” Kawanku mengucap kalimat itu dengan nada ringan namun heroik penuh penghayatan. Bahkan tiap kata yang meluncur dari rongga suaranya seakan-akan hendak memupuk sekaligus meracuni pohon persahabatan diri kami. Sambil mengisap krete...