Langsung ke konten utama

Satu Sajak Pablo Neruda



AKU MENGINGATMU SEBAGAI DIRIMU


Aku mengingatmu sebagai dirimu di musim semi lalu.
Kaulah baret abu-abu dan hati hening itu.
Lidah api senja menyala di matamu.
Dan daun-daun berjatuhan di atas air jiwamu.

Dekap lenganku bagai tanaman rambat
daun-daun menyimpan suaramu, betapa damai dan lambat.
Api unggun kekaguman membakar dahagaku.
Bakung biru manis menjerat seluruh jiwaku.

Kurasa matamu mengelana, dan musim semi begitu jauh:
baret abu-abu, suara burung, hati bagai rumah,
ke arah mana rinduku yang dalam berpindah
dan seriang bara api, ciumanku jatuh.

Langit di atas sebuah perahu, ladang di bukit-bukit:
Ingatanmu tercipta dari api, asap, dan kolam sepi!
Lewat matamu, lebih dalam lagi, malam menyala.
Dalam jiwamu berpusaran daun kering musim semi.

(Sumber terjemahan 20 Love Poems and A Song of Despair)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu Puisi Zulkifli Songyanan (2013)

SURAT DARI BANDUNG —buat Wieteke van Dort Hallo, Nyonya. Seorang perempuan tua tersesat dalam tubuhku. Ia mengingatkanku padamu lewat Hallo Bandoeng yang dengan lembut diucapkannya saban waktu. Dan konon, Nyonya perempuan tua itu masih mencari anak-cucunya yang ditakdirkan hidup abadi dalam sepotong refrain pada lagu Belandamu. (Sungguh aku tak mengenal siapa mereka meski perempuan malang itu terus saja bicara: anakku tentara, istrinya perempuan coklat dari Jawa). Nyonya tiap kali perempuan tua itu bicara tentang rindu aku mengerti, betapa sia-sia ia hidup. Tanpa rendezvous , baginya, waktu adalah sebatang sungai yang tandus. Pernah suatu ketika perempuan tua itu berteriak: anakku, anakku! keajaiban, kini terdapat pada kepingan gulden dan bentangan kawat! (Dan benar, Nyonya. betapa ajaib akhirnya, gulden dan kawat menyampaikan maut ke k...

BALADA PAPANGGUNGAN (Versi Revisi)

(Ilustrasi diunduh dari sini ) Sebentang jalan dari arah Cisurupan bersimpang di paras Papanggungan. Berpetak kebun teh dan sayuran deretan elf pakidulan tiba-tiba mirip sajak segar dengan tema alam dan sosial berbarisan. Seorang kawan bernapas lewat sulur daun tomat dan umbi-umbian. Pikirannya akar jalar merambati kekosongan. Hatinya tanah resah menadah madah hujan. Bau pupuk kandang menyesakkan dengung lalat-lalat hitam kehijauan berkelindan dalam sebuah percakapan ihwal ideologi dan cocok-tanaman. (Saat itu, kabut nyaris memenuhi cakrawala dan udara, dan udara tak sedingin biasanya). “Bagiku, kawan memilih benih yang baik itu mengolah tanah dengan baik itu adalah upaya sederhana merawat sejarah dan iman jamaah dan aturan dari tipu daya penguasa.” Kawanku mengucap kalimat itu dengan nada ringan namun heroik penuh penghayatan. Bahkan tiap kata yang meluncur dari rongga suaranya seakan-akan hendak memupuk sekaligus meracuni pohon persahabatan diri kami. Sambil mengisap krete...

Satu Sajak James Joyce

  VIII Siapa bergegas di tengah hutan hijau Dengan seluruh limpahan musim semi menghiasi? Siapa bergegas di tengah keriangan hutan hijau Lantas menjadikannya lebih riang lagi? Siapa berlalu di bawah sinar matahari Dengan cara mengerti ringannya langkah kaki? Siapa berlalu di bawah manisnya sinar matahari Dengan penampilan demikian perawan begini? Jalan seluruh wilayah berhutan Berkilat lantaran api lembut keemasan — Bagi siapa seluruh kecerahan wilayah berhutan Menampakkan pakaian yang demikian menggairahkan? O, itu demi cinta sejatiku Hutan adalah pakaian mewah bagi mereka — O, itu demi cinta sejati milikku, Yang demikian muda dan cantik senantiasa. (Sumber terjemahan Chamber Music)