Langsung ke konten utama

Satu Sajak Anna Akhmatova


MENGENANG M. B.

Inilah pemberianku, tanpa mawar di kuburmu,
atau pembakaran sebatang dupa.
Kau tinggal menyendiri, sampai akhir memelihara
penghinaanmu yang luar biasa.
Kau minum anggur, menceritakan lelucon paling licik,
hingga suatu saat tercekik di dinding menyesakkan.
Kau biarkan perempuan asing buruk masuk,
lalu ia pun tinggal bersamamu.

Kini kau pergi, tak seorang pun mengucapkan sepatah kata
mengenai kehidupanmu yang agung dan bermasalah.
Hanya suaraku, mirip flute, akan meratap
pada upacara bodoh pemakamanmu.
Oh, siapa berani percaya bahwa aku setengah gila,
aku sakit, berkabung untuk masa lalu yang terkubur,
aku, membara di atas lambat nyala api,
kehilangan segalanya sekaligus melupakan segalanya,
ditakdirkan untuk memperingati seorang lelaki
yang begitu penuh kekuatan dan kemauan
serta temuan-temuan menggembirakan
yang tampaknya saat kemarin bercakap denganku
tengah menyembunyikan getar lukanya yang mematikan itu.

(Diterjemahkan dari In Memory of M. B.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu Puisi Zulkifli Songyanan (2013)

SURAT DARI BANDUNG —buat Wieteke van Dort Hallo, Nyonya. Seorang perempuan tua tersesat dalam tubuhku. Ia mengingatkanku padamu lewat Hallo Bandoeng yang dengan lembut diucapkannya saban waktu. Dan konon, Nyonya perempuan tua itu masih mencari anak-cucunya yang ditakdirkan hidup abadi dalam sepotong refrain pada lagu Belandamu. (Sungguh aku tak mengenal siapa mereka meski perempuan malang itu terus saja bicara: anakku tentara, istrinya perempuan coklat dari Jawa). Nyonya tiap kali perempuan tua itu bicara tentang rindu aku mengerti, betapa sia-sia ia hidup. Tanpa rendezvous , baginya, waktu adalah sebatang sungai yang tandus. Pernah suatu ketika perempuan tua itu berteriak: anakku, anakku! keajaiban, kini terdapat pada kepingan gulden dan bentangan kawat! (Dan benar, Nyonya. betapa ajaib akhirnya, gulden dan kawat menyampaikan maut ke k...

BALADA PAPANGGUNGAN (Versi Revisi)

(Ilustrasi diunduh dari sini ) Sebentang jalan dari arah Cisurupan bersimpang di paras Papanggungan. Berpetak kebun teh dan sayuran deretan elf pakidulan tiba-tiba mirip sajak segar dengan tema alam dan sosial berbarisan. Seorang kawan bernapas lewat sulur daun tomat dan umbi-umbian. Pikirannya akar jalar merambati kekosongan. Hatinya tanah resah menadah madah hujan. Bau pupuk kandang menyesakkan dengung lalat-lalat hitam kehijauan berkelindan dalam sebuah percakapan ihwal ideologi dan cocok-tanaman. (Saat itu, kabut nyaris memenuhi cakrawala dan udara, dan udara tak sedingin biasanya). “Bagiku, kawan memilih benih yang baik itu mengolah tanah dengan baik itu adalah upaya sederhana merawat sejarah dan iman jamaah dan aturan dari tipu daya penguasa.” Kawanku mengucap kalimat itu dengan nada ringan namun heroik penuh penghayatan. Bahkan tiap kata yang meluncur dari rongga suaranya seakan-akan hendak memupuk sekaligus meracuni pohon persahabatan diri kami. Sambil mengisap krete...

Satu Sajak James Joyce

  VIII Siapa bergegas di tengah hutan hijau Dengan seluruh limpahan musim semi menghiasi? Siapa bergegas di tengah keriangan hutan hijau Lantas menjadikannya lebih riang lagi? Siapa berlalu di bawah sinar matahari Dengan cara mengerti ringannya langkah kaki? Siapa berlalu di bawah manisnya sinar matahari Dengan penampilan demikian perawan begini? Jalan seluruh wilayah berhutan Berkilat lantaran api lembut keemasan — Bagi siapa seluruh kecerahan wilayah berhutan Menampakkan pakaian yang demikian menggairahkan? O, itu demi cinta sejatiku Hutan adalah pakaian mewah bagi mereka — O, itu demi cinta sejati milikku, Yang demikian muda dan cantik senantiasa. (Sumber terjemahan Chamber Music)