Langsung ke konten utama

Satu Sajak Anna Akhmatova


MENGENANG M. B.

Inilah pemberianku, tanpa mawar di kuburmu,
atau pembakaran sebatang dupa.
Kau tinggal menyendiri, sampai akhir memelihara
penghinaanmu yang luar biasa.
Kau minum anggur, menceritakan lelucon paling licik,
hingga suatu saat tercekik di dinding menyesakkan.
Kau biarkan perempuan asing buruk masuk,
lalu ia pun tinggal bersamamu.

Kini kau pergi, tak seorang pun mengucapkan sepatah kata
mengenai kehidupanmu yang agung dan bermasalah.
Hanya suaraku, mirip flute, akan meratap
pada upacara bodoh pemakamanmu.
Oh, siapa berani percaya bahwa aku setengah gila,
aku sakit, berkabung untuk masa lalu yang terkubur,
aku, membara di atas lambat nyala api,
kehilangan segalanya sekaligus melupakan segalanya,
ditakdirkan untuk memperingati seorang lelaki
yang begitu penuh kekuatan dan kemauan
serta temuan-temuan menggembirakan
yang tampaknya saat kemarin bercakap denganku
tengah menyembunyikan getar lukanya yang mematikan itu.

(Diterjemahkan dari In Memory of M. B.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KISAH DI BALIK LAGU ABAH IWAN

Judul Buku:      Mentari Sang Kelana: Cerita dan Makna Lagu-lagu Iwan Abdulrachman Penulis:             Arie Malangyudo Penerbit:           Kepustakaan Populer Gramedia Tahun Terbit:    September, 2017 (Cetakan Pertama)   Halaman:          xii + 273 hlm; 14 cm x 21 cm ISBN:               978-602-424-676-1 Iwan Abdulrachman alias Abah Iwan adalah nama penting dalam khazanah musik balada (folks) Indonesia. Karakternya kuat. Karya-karyanya memukau dan mantap. Kiprahnya sebagai musikus membentang sejak usia 17 tahun hingga sekarang. Lewat buku Mentari Sang Kelana: Cerita dan Makna Lagu-lagu Iwan Abdulrachman; Arie Malangyudo berupaya menggali pesan sekaligus menyingkap asbabu-nuzul lagu-lagu yang ditulis sang maestro. Sejak 196...

Satu Puisi Zulkifli Songyanan (2013)

SURAT DARI BANDUNG —buat Wieteke van Dort Hallo, Nyonya. Seorang perempuan tua tersesat dalam tubuhku. Ia mengingatkanku padamu lewat Hallo Bandoeng yang dengan lembut diucapkannya saban waktu. Dan konon, Nyonya perempuan tua itu masih mencari anak-cucunya yang ditakdirkan hidup abadi dalam sepotong refrain pada lagu Belandamu. (Sungguh aku tak mengenal siapa mereka meski perempuan malang itu terus saja bicara: anakku tentara, istrinya perempuan coklat dari Jawa). Nyonya tiap kali perempuan tua itu bicara tentang rindu aku mengerti, betapa sia-sia ia hidup. Tanpa rendezvous , baginya, waktu adalah sebatang sungai yang tandus. Pernah suatu ketika perempuan tua itu berteriak: anakku, anakku! keajaiban, kini terdapat pada kepingan gulden dan bentangan kawat! (Dan benar, Nyonya. betapa ajaib akhirnya, gulden dan kawat menyampaikan maut ke k...

Ronaldus Asto Dadut Pahlawan Kemanusiaan dari Sumba

Ronaldus Asto Dadut. Sumber : SATU Indonesia Astra  Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu kantong pekerja migran di Indonesia. Meski begitu, Ronaldus Asto Dadut tak mengira nasib mereka begitu buruk.  Suatu hari pada tahun 2014, semasa Asto kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Nusa Cendana, Kupang, dia diminta seorang dosen dari Kampus Unwira Kupang, untuk menjemput korban human trafficking yang telah disekap selama 3 bulan.  Ia kaget mendapati 15 korban tersebut kebanyakan perempuan, dalam keadaan depresi dan tidak terurus. Pada tahun itu juga, Ronaldus bersama teman-temannya mendirikan Jaringan Relawan untuk Kemanusiaan (J-RUK) Sumba. Sampai kini, mereka sudah memberikan berbagai penyuluhan mengenai Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan sosialisasi pencegahan human trafficking (perdagangan manusia).  Jaringan Relawan Untuk Kemanusiaan (J–RUK ) Sumba adalah Sebuah komunitas bersama lintas batas yang peduli akan kemanusiaan. Komunitas ini fo...