Langsung ke konten utama

Satu Puisi Zulkifli Songyanan (2013)




SURAT DARI BANDUNG
—buat Wieteke van Dort

Hallo, Nyonya.
Seorang perempuan tua
tersesat dalam tubuhku.
Ia mengingatkanku padamu
lewat Hallo Bandoeng
yang dengan lembut
diucapkannya saban waktu.
Dan konon, Nyonya
perempuan tua itu
masih mencari anak-cucunya
yang ditakdirkan hidup abadi
dalam sepotong refrain
pada lagu Belandamu.

(Sungguh aku tak mengenal siapa mereka
meski perempuan malang itu terus saja bicara:
anakku tentara, istrinya perempuan coklat dari Jawa).

Nyonya
tiap kali perempuan tua itu
bicara tentang rindu
aku mengerti, betapa sia-sia ia hidup.
Tanpa rendezvous, baginya, waktu
adalah sebatang sungai yang tandus.

Pernah suatu ketika
perempuan tua itu berteriak:
anakku, anakku!
keajaiban, kini terdapat
pada kepingan gulden dan bentangan kawat!

(Dan benar, Nyonya.
betapa ajaib akhirnya, gulden dan kawat
menyampaikan maut ke kelu mulutnya).

Terkenang perempuan tua itu
aku bertanya, kenapa saat orang-orang
kehilangan seluruh ungkapan dan kata-kata—

suara, tiba-tiba jadi perkara paling menyiksa.

2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KISAH DI BALIK LAGU ABAH IWAN

Judul Buku:      Mentari Sang Kelana: Cerita dan Makna Lagu-lagu Iwan Abdulrachman Penulis:             Arie Malangyudo Penerbit:           Kepustakaan Populer Gramedia Tahun Terbit:    September, 2017 (Cetakan Pertama)   Halaman:          xii + 273 hlm; 14 cm x 21 cm ISBN:               978-602-424-676-1 Iwan Abdulrachman alias Abah Iwan adalah nama penting dalam khazanah musik balada (folks) Indonesia. Karakternya kuat. Karya-karyanya memukau dan mantap. Kiprahnya sebagai musikus membentang sejak usia 17 tahun hingga sekarang. Lewat buku Mentari Sang Kelana: Cerita dan Makna Lagu-lagu Iwan Abdulrachman; Arie Malangyudo berupaya menggali pesan sekaligus menyingkap asbabu-nuzul lagu-lagu yang ditulis sang maestro. Sejak 196...

Satu Sajak Nizar Qabbani

  PELAJARAN MENGGAMBAR Anakku meletakkan kotak gambarnya di depanku lalu memintaku menggambar seekor burung. Kucelupkan kuas pada cat abu itu kugambar sebuah kotak dengan kunci dan palang pintu. Matanya terbelalak heran: “... Ayah, bukankah ini penjara, tahukah kau bagaimana menggambar burung?” Kukatakan padanya: “Nak, maafkan aku. Aku sudah lupa pada bentuk burung-burung.” Anakku meletakkan buku gambarnya di depanku lalu memintaku menggambar tangkai gandum. Kugenggam pena dan kugambar tangkai senapan. Anakku menertawakan kebodohanku, bertanya “Ayah, tak tahukah engkau, perbedaan tangkai gandum dan senapan?” Kukatakan padanya, “Nak, aku pernah mengetahui bentuk tangkai gandum sekerat roti dan kembang mawar. Tapi di saat segenting ini pohon-pohon hutan telah bergabung bersama tentara dan mawar-mawar mengenakan seragam yang kusam. Kini saatnya tangkai gandum bersenjata burung-burung bersenjata budaya bersenjata bahkan agama pun bersenjat...