Langsung ke konten utama

BALADA PAPANGGUNGAN (Versi Revisi)

(Ilustrasi diunduh dari sini)



Sebentang jalan dari arah Cisurupan bersimpang di paras Papanggungan. Berpetak kebun teh dan sayuran deretan elf pakidulan tiba-tiba mirip sajak segar dengan tema alam dan sosial berbarisan. Seorang kawan bernapas lewat sulur daun tomat dan umbi-umbian. Pikirannya akar jalar merambati kekosongan. Hatinya tanah resah menadah madah hujan. Bau pupuk kandang menyesakkan dengung lalat-lalat hitam
kehijauan
berkelindan dalam sebuah percakapan ihwal ideologi dan cocok-tanaman. (Saat itu, kabut nyaris memenuhi cakrawala dan udara, dan udara tak sedingin biasanya). “Bagiku, kawan memilih benih yang baik itu mengolah tanah dengan baik itu adalah upaya sederhana merawat sejarah dan iman jamaah dan aturan dari tipu daya penguasa.” Kawanku mengucap kalimat itu dengan nada ringan namun heroik penuh penghayatan. Bahkan tiap kata yang meluncur dari rongga suaranya seakan-akan hendak memupuk sekaligus meracuni pohon persahabatan diri kami. Sambil mengisap kretek dalam-dalam menikmati kehidupan yang damai namun penuh gejolak di sela Cikuray-Papandayan kami kenang suatu zaman di mana iman bagai udara demikian ringan dan bersahaja. “Aku tak akan melupakan masa kanak dulu meski tahu, itulah masa paling gelap dalam hidupku.” (Aneh. Bagaimana mungkin kegelapan melingkupi hari-hari kami yang sepenuhnya riang gemerlapan). “Masuklah dalam jamaahku. Masuklah sebagai benih baru dalam kebun hijau segar itu.” Seruan itu merambati pikiranku bagai sulur-sulur daun tomat     lembut         lambat             dan (seolah)
                penuh                         rahmat. Namun seluruh syaraf tubuhku ayat-ayat yang pernah kupelajari dahulu seakan-akan menjelma menjadi pagar: seketika membuat batasan memusingkan     antara salah dan benar     antara tekad tetap taat
   dan hasrat berkhianat. “Musim panen hampir selesai tapi aku akan terus jadi petani bahkan bila sampai mimpi-mimpi revolusi.” Aha!
Frasa terakhir itu utopia lama itu tiba-tiba bikin banyak perkara berlintasan di kepala:
daulat negara
    7 kalimat yang hilang         dalam sejarah Piagam Jakarta;
tentara dan pemuka agama
    cita-cita dan trauma         fakta yang sulit dibaca             jihad dan perang saudara             (yang kelak memunculkan                 pahlawan dan pemberontak                       dalam sesosok tubuh yang sama)
lalu keyakinan yang polos dan buta:     khilafah     sorga dalil yang ditafsirkan semaunya;     khilafah     sorga yang dirampas dari bayangan kita semua;
    lalu khilafah
    lalu sorga    lalu pohon-pohon dan tanah
        menyesalkan             takdir hidup
                manusia. Namun tak dapat kuucap sepatah kata pun pada sang kawan. Bahasaku
tak lagi nyaring
meyakinkan. (Terlebih saat ia bicara tentang makna sesungguhnya     syahadatku     salatku     zakatku     puasaku yang cuma sekadar     angin lalu bakal diganjar     siulan     Tuhanku). Jaring-jaring agitasi terus menjerat leherku bagai tali kekang pada moncong kuda peliharaanmu. Lalu umbi-umbian benalu seluruh rumput liar seakan-akan bersekutu menghendaki aku mengamini seruan asing itu. Hanya gamang kini menguasai. Apalagi sang kawan mengabarkan tanpa baiat—
akulah muslim         kafir         munafik dalam waktu bersamaan.
Sedangkan dirinya golongan kaum beriman. Aha! Apatah iman mesti dimonopoli seolah bisnis rempah di tanah terjajah ini. Apatah iman semacam asuransi menjamin kerusakan hidupmu suatu hari nanti. Aku tengadah menghela napas panjang melafazkan istigfar berulang-ulang. (Sepasang merpati di bubungan rumah menatap kami dengan matanya yang merah). Lantas inilah yang terbayang kemudian: sebentang jalan dari arah Cisurupan memang semestinya bersimpang di paras Papanggungan. Dengung lalat-lalat hitam kehijauan sayup-sayup tertutupi rimbunan azan. Kemudian (tanpa rasa keberatan atau kehendak memaksakan) lambaian tangan. Saat itu cakrawala telah berkabut sepenuhnya dan Tuhan kutemui sendirian. Benar-benar kutemu Ia 
sendirian. 

***


Versi pertama puisi di atas ada pada kumpulan "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu Puisi Zulkifli Songyanan (2013)

SURAT DARI BANDUNG —buat Wieteke van Dort Hallo, Nyonya. Seorang perempuan tua tersesat dalam tubuhku. Ia mengingatkanku padamu lewat Hallo Bandoeng yang dengan lembut diucapkannya saban waktu. Dan konon, Nyonya perempuan tua itu masih mencari anak-cucunya yang ditakdirkan hidup abadi dalam sepotong refrain pada lagu Belandamu. (Sungguh aku tak mengenal siapa mereka meski perempuan malang itu terus saja bicara: anakku tentara, istrinya perempuan coklat dari Jawa). Nyonya tiap kali perempuan tua itu bicara tentang rindu aku mengerti, betapa sia-sia ia hidup. Tanpa rendezvous , baginya, waktu adalah sebatang sungai yang tandus. Pernah suatu ketika perempuan tua itu berteriak: anakku, anakku! keajaiban, kini terdapat pada kepingan gulden dan bentangan kawat! (Dan benar, Nyonya. betapa ajaib akhirnya, gulden dan kawat menyampaikan maut ke k...

KISAH DI BALIK LAGU ABAH IWAN

Judul Buku:      Mentari Sang Kelana: Cerita dan Makna Lagu-lagu Iwan Abdulrachman Penulis:             Arie Malangyudo Penerbit:           Kepustakaan Populer Gramedia Tahun Terbit:    September, 2017 (Cetakan Pertama)   Halaman:          xii + 273 hlm; 14 cm x 21 cm ISBN:               978-602-424-676-1 Iwan Abdulrachman alias Abah Iwan adalah nama penting dalam khazanah musik balada (folks) Indonesia. Karakternya kuat. Karya-karyanya memukau dan mantap. Kiprahnya sebagai musikus membentang sejak usia 17 tahun hingga sekarang. Lewat buku Mentari Sang Kelana: Cerita dan Makna Lagu-lagu Iwan Abdulrachman; Arie Malangyudo berupaya menggali pesan sekaligus menyingkap asbabu-nuzul lagu-lagu yang ditulis sang maestro. Sejak 196...