Langsung ke konten utama

Postingan

Satu Puisi Zulkifli Songyanan (2014)

SEKADAR SAJAK —Rose Novia Di tepi telaga yang luas dan tenang itu kupandangi lagi wajahmu. Betapa lebat sepasang alis matamu betapa hebat engkau menggentarkan hatiku. Matamu, bola dunia yang sesungguhnya itu ternyata menyimpan ketenangan dan keluasan sebuah telaga. Sungguh segar udara kuhirup di sela embusan napasmu. Aku pun percaya bibirmu yang sehat dan pipimu yang padat tak kalah mempesona tinimbang tanah coklat menumbuhkan aneka bunga. Menyusuri seluruh rahasia dan keindahan di wajahmu hatiku sampan kecil yang sengsara terguncang seketika, mabuk dalam pusaran senyumanmu yang bersahaja. Di dekatmu, derita hidup itu tak ada. Bahkan saat kupandangi lagi matamu yang teduh aku benar-benar lupa bahwa aku sekadar menulis sajak, di tepi sebuah telaga.

Satu Puisi Zulkifli Songyanan (2013)

SURAT DARI BANDUNG —buat Wieteke van Dort Hallo, Nyonya. Seorang perempuan tua tersesat dalam tubuhku. Ia mengingatkanku padamu lewat Hallo Bandoeng yang dengan lembut diucapkannya saban waktu. Dan konon, Nyonya perempuan tua itu masih mencari anak-cucunya yang ditakdirkan hidup abadi dalam sepotong refrain pada lagu Belandamu. (Sungguh aku tak mengenal siapa mereka meski perempuan malang itu terus saja bicara: anakku tentara, istrinya perempuan coklat dari Jawa). Nyonya tiap kali perempuan tua itu bicara tentang rindu aku mengerti, betapa sia-sia ia hidup. Tanpa rendezvous , baginya, waktu adalah sebatang sungai yang tandus. Pernah suatu ketika perempuan tua itu berteriak: anakku, anakku! keajaiban, kini terdapat pada kepingan gulden dan bentangan kawat! (Dan benar, Nyonya. betapa ajaib akhirnya, gulden dan kawat menyampaikan maut ke k...

Satu Sajak Emily Dickinson

SEBAB AKU TAK SANGGUP MENGHENTIKAN MAUT Sebab aku tak sanggup menghentikan maut— dengan ramah maut pun menghentikanku— kereta kuda disiapkan untuk kami— juga untuk hidup yang abadi. Perlahan kami melaju—maut tahu untuk tidak terburu-buru maka aku sisihkan tenaga serta kesengganganku, untuk kesopanannya itu— Kami melewati sekolah, di mana anak-anak berjuang saat istirahat—di gelanggang— kami melewati padang biji pemandangan— kami melewati posisi matahari— Atau lebih tepatnya—ia melewati kami— embun tumbuh dingin dan gemetar— hanya demi sutera tipis, gaunku— selendangku—satin biasa itu— Kami berhenti di depan sebuah rumah yang tampak seperti gundukan tanah— Atapnya jarang-jarang terlihat— hiasan dinding—berada di di tanah— Sejak saat itu—bahkan abad demi abad— terasa lebih singkat ketimbang hari aku pun menduga bahwa kepala ini kuda tengah menghadap alam baka— (Diterjemahkan dari puisi Emily Dickinson Because ...