Langsung ke konten utama

Postingan

Bagaimana Penerbit Teroka Merayakan Buku

Sepanjang 2020, sependek amatan saya, rasa-rasanya tak ada penerbit independen (indie) di Indonesia yang memperlakukan penulis se-serius Penerbit Teroka. Sebelum buku naik cetak, mereka melakukan promosi amat gencar dan niat—lihat konten-konten media sosialnya . Setelah buku dicetak dan didistribusikan kepada pembaca (terutama lewat jaringan toko buku online ), penerbit juga rajin bikin diskusi. Selain menggelar diskusi mandiri, Teroka juga menggelar diskusi buku terbitan mereka lewat jalur kolaborasi dengan banyak pihak, antara lain: institusi pendidikan dan komunitas-komunitas literasi. Sekilas, hal demikian tampak biasa saja. Begitulah idealnya penerbit bekerja. Namun mengingat semua itu dilakukan secara daring—semua tahu, pandemi Covid-19 bikin banyak kegiatan mesti dilangsungkan via internet—apa yang dikerjakan Teroka justru menunjukkan kejelian mereka menyikapi peluang sekaligus menyiasati keadaan. Setelah buku dibaca publik dan publik menyampaikan tanggapannya lewat berbag...

Dari Baliho ke Video: Hubungan Saya dengan Uu Ruzhanul Ulum

“Cintailah kekasihmu sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi seorang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang engkau benci sewajarnya karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi kekasihmu.” (HR Tirmidzi, dishahihkan oleh syaikh Al Albani).  Hubungan saya dengan wakil gubernur Jawa Barat Uu Ruhzanul Ulum boleh dibilang seperti hubungan saya selaku fans Arsenal dengan pelatih Tottenham Hotspur Maurico Pochettino: saya sulit menyukainya, musykil bertemu langsung dengannya, namun diam-diam apa yang ia lakukan, khususon kemampuannya melepaskan diri dari sejumlah persoalan, sanggup mengubah perasaan kesal menjadi sebentuk kekaguman yang tak bisa dinafikan.  Demikianlah yang terjadi pada diri saya sejak pertama kali melihat sosok Uu beserta istri pertamanya dalam sebuah baliho di alun-alun Singaparna circa 2011. “Eh, ini bupati yang baru apa Narji Cagur, sih? Mirip betul!”  Jarak antara rumah saya dengan kantor tempat Uu bekerja selama 7 tahun tak lebih dari ...

PUISI PANJANG ANNA AKHMATOVA

REKUIEM 1935-1940 Bukan, bukan di bawah naungan langit asing atau di bawah perlindungan orang asing aku berbagi bersama saudara sebangsaku tapi di sana, di mana kemalangan bangsaku telah berlalu. (1961) PENGANTAR Pada hari-hari mengerikan rezim Nikolai Yezhov kuhabiskan tujuh belas bulan dalam antrean penjara di Leningrad. Suatu ketika, seseorang ‘mengenaliku’ di sana. Lalu seorang perempuan, berdiri di belakangku, yang, tentunya, tak pernah mendengar namaku, seketika tersentak dari lamunannya yang lesu —hal wajar bagi kami di sana—lantas bertanya ke padaku, berbisik di telingaku (di sana setiap pembicaraan hanya berlangsung lewat bisikan): “Bisakah kau jelaskan semua ini?” dan kujawab: “Ya, aku bisa.” Tiba-tiba sesuatu yang mirip senyuman terpancar pada apa yang selama bertahun-tahun cuma seraut wajah datar. (Leningrad, 1 April 1957)  PERSEMBAHAN Gunung-gunung menggelincir karena bencana ini, sungai-sungai besar tak lagi mengalir...

KISAH DI BALIK LAGU ABAH IWAN

Judul Buku:      Mentari Sang Kelana: Cerita dan Makna Lagu-lagu Iwan Abdulrachman Penulis:             Arie Malangyudo Penerbit:           Kepustakaan Populer Gramedia Tahun Terbit:    September, 2017 (Cetakan Pertama)   Halaman:          xii + 273 hlm; 14 cm x 21 cm ISBN:               978-602-424-676-1 Iwan Abdulrachman alias Abah Iwan adalah nama penting dalam khazanah musik balada (folks) Indonesia. Karakternya kuat. Karya-karyanya memukau dan mantap. Kiprahnya sebagai musikus membentang sejak usia 17 tahun hingga sekarang. Lewat buku Mentari Sang Kelana: Cerita dan Makna Lagu-lagu Iwan Abdulrachman; Arie Malangyudo berupaya menggali pesan sekaligus menyingkap asbabu-nuzul lagu-lagu yang ditulis sang maestro. Sejak 196...

Satu Sajak Nizar Qabbani

  PELAJARAN MENGGAMBAR Anakku meletakkan kotak gambarnya di depanku lalu memintaku menggambar seekor burung. Kucelupkan kuas pada cat abu itu kugambar sebuah kotak dengan kunci dan palang pintu. Matanya terbelalak heran: “... Ayah, bukankah ini penjara, tahukah kau bagaimana menggambar burung?” Kukatakan padanya: “Nak, maafkan aku. Aku sudah lupa pada bentuk burung-burung.” Anakku meletakkan buku gambarnya di depanku lalu memintaku menggambar tangkai gandum. Kugenggam pena dan kugambar tangkai senapan. Anakku menertawakan kebodohanku, bertanya “Ayah, tak tahukah engkau, perbedaan tangkai gandum dan senapan?” Kukatakan padanya, “Nak, aku pernah mengetahui bentuk tangkai gandum sekerat roti dan kembang mawar. Tapi di saat segenting ini pohon-pohon hutan telah bergabung bersama tentara dan mawar-mawar mengenakan seragam yang kusam. Kini saatnya tangkai gandum bersenjata burung-burung bersenjata budaya bersenjata bahkan agama pun bersenjat...